Apa yang harus dilakukan dengan politik ekologi?

Diterjemahkan secara bebas dari Introduction, dalam Politics of Nature: How to Bring the Sciences into Democracy, 2004

TIDAK UNTUK DIKUTIP!


politcs of natureOleh: Bruno Latour

Apa yang harus dilakukan dengan ekologi politik? Tidak ada. Apa yang harus dilakukan? Ekologi politik!

Semua orang yang telah berharap bahwa politik alam akan membawa sebuah pembaharuan dalam kehidupan publik telah menanyakan pertanyaan pertama, sambil mencatat kemandegan dari apa yang disebut gerakan “hijau.” Mereka berharap mengetahui mengapa sebuah upaya yang begitu menjanjikan sering berujung pada sia-sia belaka. Terlepas dari itu, setiap orang terikat untuk menjawab pertanyaan kedua dengan cara yang sama. Kita tidak punya pilihan: politik tidak jatuh dengan rapi pada satu sisi pembagian dan alam pada sisi lainnya. Sejak istilah “politik” diciptakan, segala jenis politik telah didefinisikan oleh hubungannya dengan alam, yang setiap fitur, properti, dan fungsinya tergantung pada kehendak yang polemis untuk membatasi, mengubah, membangun, memangkas, atau mencerahkan kehidupan publik. Akibatnya, kita tidak dapat memilih apakah akan terlibat dalam ekologi politik atau tidak; tapi kita dapat memilih untuk terlibat di dalamnya secara diam-diam, dengan membedakan mana pertanyaan tentang alam dan mana pertanyaan tentang politik, atau secara terang-terangan, dengan memperlakukan dua rangkaian pertanyaan tersebut sebagai sebuah masalah tunggal yang muncul bagi semua kumpulan. Sementara gerakan ekologi memberitahu kita bahwa alam secara cepat masuk dalam politik, kita perlu membayangkan—paling sering menyesuaikan diri dengan gerakan-gerakan itu tapi kadang-kadang melawan mereka—bagaimana politik akhirnya dibebaskan dari pedang Damocles [ketidakpastian, A.N.] dari yang kita sebut alam.

Kritikus akan berpendapat bahwa ekologi politik sudah ada sebelumnya. Mereka akan memberitahu kita bahwa dia memiliki nuansa yang tak terhitung jumlahnya, dari yang paling besar sampai yang paling dangkal, termasuk segala kemungkinan bentuk utopia, rasional, atau pasar bebas. Apapun keberatan yang kita berikan pada mereka, gerakan-gerakan ini telah menjalin ikatan yang sangat banyak antara alam dan politik. Memang, ini hanyalah apa yang mereka klaim sedang dilakukan: akhirnya melakukan sebuah politik alam; akhirnya memodifikasi kehidupan publik sehingga memperlakukan alam pada porsinya; akhirnya menyesuaikan sistem produksi kita pada tuntutan alam; akhirnya melestarikan alam dari degradasi manusia melalui sebuah politik berkelanjutan. Singkatnya, dalam banyak cara yang tidak jelas dan kadang kontradiktif, perhatian terhadap alam telah diperkenalkan dalam kehidupan politik.

Bagaimana saya bisa mengklaim bahwa ada sebuah tugas baru di sini, yang belum pernah dilakukan? Orang-orang mungkin berdebat tentang kegunaannya, mereka dapat berdalih tentang aplikasinya, tetapi kita tidak bisa bersikap seolah-olah tugas tersebut telah dilakukan, sebagaimana jika dia belum sampai pada batas pencapaian yang diakui. Jika ekologi politik telah berubah menjadi mengecewakan, itu bukan karena belum ada orang yang mencoba membuat tempat bagi alam dalam kehidupan publik. Jika ekologi politik kehilangan pengaruhnya, menurut beberapa orang, itu hanyalah karena kepentingan-kepentingan yang berbaris melawannya terlalu kuat; menurut yang lain, ini adalah karena ekologi politik tidak pernah memiliki cukup substansi untuk bersaing dengan praktik politik kuno sebagaimana adanya. Bagaimanapun, sudah terlambat untuk membuka isu ini kembali. Kita perlu baik mengubur gerakan dalam kuburan besar ideologi-ideologi usang, atau kita perlu melawan dengan lebih tegar untuk memastikan bahwa gerakan ini akan menang dalam bentuk barunya. Dalam kedua kasus itu, mati adalah resiko, konsep-konsep diidentifikasi, posisi-posisi diketahui. Anda terlambat muncul untuk sebuah perdebatan yang mana istilah-istilah sudah diatur baku. Masa untuk refleksi sudah lewat. Anda seharusnya membicarakannya sepuluh tahun lalu.

Dalam buku ini, saya ingin mengusulkan sebuah hipotesis yang berbeda yang mungkin membenarkan intervensi saya pada waktu yang kurang tepat. Dari sudut pandang konseptual, ekologi politik belum mulai untuk eksis. Kata-kata “ekologi” dan “politik” telah secara sederhana disandingkan tanpa sebuah pemikiran ulang yang menyeluruh dari kedua istilah tersebut; sebagai hasilnya, kita tidak dapat menarik kesimpulan dari percobaan-percobaan yang telah dilalui gerakan ekologi sampai sekarang, baik tentang kegagalan mereka di masa lalu ataupun tentang kemungkinan keberhasilan mereka. Alasan dari penundaan itu sangat sederhana. Orang-orang terlalu cepat untuk percaya bahwa cukuplah untuk mendaur ulang konsep-konsep lama tentang alam dan politik tidak berubah, dalam rangka menbuat hak dan aturan dari sebuah ekologi politik. Namun oikos, logos, phusis, dan polis tetap menjadi teka-teki selama empat konsep tersebut tidak digunakan dalam permainan pada saat yang sama. Ahli ekologi politik mengira bahwa mereka bisa membuang kerja konseptual tersebut, tanpa menyadari bahwa perhatian tentang alam dan politik telah dikembangkan sedemikian rupa selama berabad-abad seperti halnya membuat perbandingan, sintesis, kombinasi dari kedua istilah tersebut tidaklah mungkin. Dan, bahkan lebih serius lagi, mereka telah mengklaim, dalam antusiasme dari suatu visi ekumenis, untuk “telah melampaui” perbedaan lama antara manusia dan benda, subjek dari hukum dan objek dari ilmu pengetahuan—tanpa mengamati bahwa entitas-entitas tersebut telah dibentuk, diprofilkan, dan dipahat sedemikian rupa agar mereka secara bertahap menjadi tidak sesuai.

Jauh dari “telah melampaui” dikotomi manusia dan alam, subjek dan objek, moda-moda produksi, dan lingkungan, dalam rangka mencari solusi untuk krisis sesegera mungkin, yang perlu dilakukan ahli ekologi politik adalah memperlambatgerakan, mengambil waktu mereka, kemudian memendam dalam dikotomi seperti pepatah tikus tanah tua. Itu, setidaknya, adalah argumen saya. Daripada memotong Gordian knot [masalah yang rumit = benang kusut, A.N.], saya akan membenturkannya dalam cara yang beragam. Saya akan melepaskan beberapa simpul agar menyambungkannya kembali dengan cara berbeda. Ketika filsafat politik tentang ilmu pengetahuan diperhatikan, seseorang harus mengambil waktu dari orang lain, agar tidak kehilangannya. Para ahli ekologi terlalu cepat untuk menyepakati ketika mereka mengajukan slogan merek “Berpikir global, bertindak lokal.” Ketika “berpikir global” diperhatikan, mereka telah datang bersama yang tidak lebih baik ketimbang suatu alam yang sudah disusun, sudah dijumlah, sudah dilembagakan untuk menetralkan politik. Untuk benar-benar berpikir dalam cara yang “global”, mereka perlu untuk memulai dengan menemukan lembaga-lembaga yang mana globalisme dikonstruksikan secara bertahap. Dan alam, sebagaimana akan kita lihat, hampir tidak bisa berkontribusi secara kurang efektif pada proses itu.

Ya, dalam buku ini kita akan bergerak maju seperti kura-kura dalam fabel; dan seperti kura-kura, atau setidaknya begitu harapan saya, kita akan melewati sang kelinci, yang telah memutuskan, dalam kebijaksanaan besarnya, bahwa ekologi politik merupakan sebuah pertanyaan yang ketinggalan jaman, mati dan dikuburkan, tidak sanggup memproduksi gagasan, tidak mampu memberikan landasan baru bagi moralitas, epistemologi, dan demokrasi—kelinci yang sama yang telah diklaim sebagai “mendamaikan alam dan manusia” dalam beberapa lompatan besar. Dalam rangka memaksa diri kita untuk memperlambat, kita akan harus berurusan secara bersamaan dengan ilmu, dengan alam, dan dengan politik, secara jamak.

Produksi ilmiah: di sinilah kendala pertama yang akan kita temui sepanjang jalan kita. Ekologi politik dikatakan berhubungan dengan “alam dalam hubungannya dengan masyarakat.” Baik dan bagus. Tapi sifat ini menjadi diketahu melalui perantaraan ilmu pengetahuan; dia didefinisikan melalui intervensi dari profesi, disiplin, dan aturan; dia didistribusikan melalui pusat-pusat data; dia dilengkapi dengan argumen-argumen melalui perantaraan masyarakat terpelajar. Ekologi, seperti namanya, tidak memiliki akses langsung pada alam; dia adalah sebuah “-logi” seperti disiplin keilmuwan yang lain. Di bawah judul ilmu pengetahuan, kemudian, kita telah menemukan suatu gabungan yang rumit dari bukti-bukti dan pekerja-pekerja bukti, sebuah masyarakat terpelajar yang bertindak sebagai pihak ketiga dalam setiap hubungan dengan masyarakat. Namun, terlalu sering, gerakan ekologis telah berusaha untuk memangkas pihak ketiga ini, justru untuk mempercepat kemajuan militan mereka. Bagi mereka, ilmu pengetahuan tetap sebagai sebuah cermin bagi dunia, sampai-sampai bahwa seseorang dapat hampir selalu, dalam tulisan mereka, menggunakan istilah “alam” dan “ilmu pengetahuan” sebagai sinonim.[1] Hipotesis saya adalah, sebaliknya, bahwa teka-teki produksi ilmiah harus diposisikan kembali pada inti dari ekologi politik. Ini mungkin akan memperlambat akuisisi kepastian yang seharusnya berfungsi sebagai perpanjangan tangan dalam perjuangan poliitk, tapi antara antara alam dan masyarakat kita perlu memasukkan istilah ketiga tersebut, yang perannya akan berubah menjadi krusial.

Alam adalah penghambat kedua yang akan dijumpai ekologi politik selama perjalanannya. Bagaimanakah, beberapa akan keberatan, alam dapat memunculkan ketidaknyamanan dari serangkaian disiplin yang militan dan ilmiah yang berhubungan dengan cara melindungi alam, mempertahankannya, memasukkannya dalam percaturan politik, membuatnya sebagai objek estetika, sebuah subjek hukum, atau dalam hal apapun sebuah perhatian? Namun inilah di mana kesulitan muncul. Setiap kali kita berusaha mencampurkan fakta ilmiah dengan nilai-nilai estetika, politik, ekonomi, dan moral, kita menemukan diri kita dalam kebingungan. Jika kita mengakui terlalu banyak fakta, elemen manusia dalam keseluruhannya bergeser ke dalam objektivitas, menjadi suatu hal yang dapat dihitung dan dikalkulasi, garis paling bawah dalam hal energi, satu spesies atas yang lain. Jka kita mengakui terlalu banyak untuk dinilai, seluruh alam jatuh pada ketidakpastian atas mitos, dalam puisi atau romantisme; segalanya menjadi jiwa dan roh. Jika kita mencampur fakta dan nilai, kita pergi dari buruk menjadi yang terburuk, karena kita menarik diri dari baik otonomi pengetahuan dan independensi moralitas. Kita tidak akan pernah tahu, misalnya, apakah prediksi kiamat dari para ahli ekologi militan yang mengancam kita menutupi kekuasaan ilmuwan atas politisi atau dominasi politisi atas ilmuwan miskin.

Buku ini mengedepankan hipotesis bahwa ekologi politik tidak ada hubungan sama sekali dengan “alam”—yang membaur dalam politik Yunani, Kartesianisme Prancis, dan lahan Amerika. Ijinkan saya berterus terang: ekologi politik tidak ada hubungannya dengan alam. Untuk mengatakannya secara lebih kuat, tidak ada dalam sejarah singkatnya ekologi politik telah memiliki hubungan dengan alam, dengan pertahanan atau perlindungannya. Seperti akan saya tunjukkan dalam Bab 1, keyakinan bahwa ekologi politik tertarik pada alam adalah sifat kekanak-kanakan dari ranah itu, menjaganya agar tetap dalam suatu keadaan tak berdaya dengan melindunginya dari bahkan pemahaman praktiknya sendiri. Harapan saya adalah bahwa proses penyapihan, sekalipun terlihat sedikit kasar, akan memiliki dampak yang lebih menguntungkan daripada perawatan yang dipaksakan dari perhatian atas alam sebagai objek tunggal dari ekologi politik.

Kendala ketiga, yang paling mengganggu, dan yang paling kontroversial jelas datang dari politik. Kita tahu perbedaan antara ekologi ilmiah dan ekologi politik, antara mahasiswa ekologi dan para militan dalam gerakan ekologi. Kita juga tahu bagaimana gerakan ekologi selalu kesulitan mendapatkan tempat dalam percaturan politik. Di kanan? Kiri? Paling kanan? Paling kiri? Tidak kanan atau kiri? Di tempat lain, dalam pemerintahan? Tidak di manapun, dalam utopia? Di atas, dalam teknokrasi? Di bawah, dalam perjalanan balik menuju sumber-sumber kebijaksanaan? Di luar, dalam pemenuhan realisasi diri? Di mana saja, seperti hipotesis indah Dewi Gaia menyarankan, menempatkan Bumi yang akan membawa seluruh ekosistem berada dalam sebuah organisme tunggal yang terintegrasi? Bisa terdapat suatu ilmu Gaia, sebuah kultus Gaia, tapi bisakah terdapat sebuah politik Gaia? Jika kita mencapai titik untuk membela Ibu Pertiwi, apakah itu sebuah politik? Dan jika tujuan kita adalah untuk menghentikan polusi suara, untuk menutup tempat pembuangan sampah kota, untuk mengurangi asap dari knalpot, itu tidaklah layak membuat usaha memindahkan langit dan bumi: seorang menteri kabinet akan melakukannya. Hipotesis saya adalah bahwa gerakan-gerakan ekologi telah berusaha untuk memposisikan diri dalam percaturn politik tanpa menggambar ulang kotak-kotaknya, tanpa mendefinisikan ulang aturan permainan, tanpa mendesain ulang bidak-bidaknya.

Tidak ada dalam kenyataan yang membuktikan bahwa pembagian kerja antara politik manusia dan ilmu pengetahuan tentang benda, antara persyaratan dari kebebasan dan kekuasaan atas kebutuhan, dapat digunakan sedemikian rupa untuk pelabuhan ekologi politik. Bahkan mungkin semakin perlu untuk berhipotesis bahwa kebebasan politik manusia tidak pernah didefinisikan kecuali dalam rangka membatasinya dengan menerapkan hukum kebutuhan alamiah. Jika ini yang terbukti terjadi, demokrasi telah dibuat tak berdaya secara sengaja. Manusia dilahirkan bebas; dimana pun mereka berada dalam rantai; kontrak sosial mengklaim mengemansipasi mereka; ekologi politik sendirian dapat melakukannya, tetapi ekologi politik sendiri tidak bisa berharap untuk diselamatkan oleh laki-laki dan perempuan yang merdeka. Diwajibkan untuk mendefinisikan ulang politik dan ilmu pengetahuan, kebebasan dan kebutuhan, manusiawi dan tidak manusiawi, dalam rangka menemukan sebuah ruang bagi dirinya sendiri, ekologi politik telah kehilangan nyawa dalam perjalanannya. Dia berpikir bisa mengandalkan alam untuk mempercepat kehadiran demokrasi. Kini dia tidak memiliki keduanya. Tugas itu harus diambil lagi dari sudut yang berbeda, melalui sebuah jalan memutar yang lebih panjang dan berbahaya.

Dalam otoritas apakah saya mengarahkan ekologi politik pada tiga ujian tentang produksi ilmiah, pengingkaran atas alam, dan redefinisi atas yang politis? Apakah penulis dan mereka yang terilhami oleh para militansi ekologi? Bukan. Ahli ekologi terpercaya? Bukan juga. Politisi yang berpengaruh, lalu? Tentu saja tidak. Jika saya dapat memohon pada otoritas manapun, saya menyadari bahwa saya akan menghemat waktu para pembaca saya: mereka dapat percaya pada saya. Tapi yang penting bukanlah penghematan waktu, untuk mempercepat, untuk mensistesiskan data yang massif, untuk memecahkan masalah mendasar secara terburu-buru, untuk menangkal musibah dramatis dengan tindakan-tindakan yang sama dramatisnya. Intinya adalah bahkan tidak untuk memanfaatkan pengetahuan detail untuk berlaku adil bagi mereka yang berpikir serius tentang ekologi. Dalam buku ini, intinya adalah hanya untuk memunculkan sebuah pertanyaan yang familiar selagi lagi pada diri sendiri, dan bahkan untuk diri saya sendiri: Bagaimana hubungan antara alam, ilmu pengetahuan, dan politik? Kelemahan, menurut saya, dapat membawa pada kekuatan.

Jika saya tidak punya otoritas sendiri, saya tetap mendapat manfaat dari keuntungan khusus, dan itu saja adalah yang memberi saya otoritas untuk mengatakan pada pembaca saya: ketertarikan saya pada produksi politis tidak lebih dan tidak kurang daripada ketertarikan saya pada produksi ilmiah. Atau lebih tepatnya, saya mengagumi politis sebagaimana saya mengagumi ilmuwan. Pikirkan tentang ini: penghormatan ganda itu tidaklah begitu wajar. Ketidakhadiran saya dari otoritas menawarkan secara tepat jaminan bahwa saya tidak akan menggunakan ilmu pengetahuan untuk menaklukan politik, atau politik untuk menaklukan ilmu pengetahuan. Klaim saya adalah bahwa saya dapat mengubah keuntungan yang sangat kecil itu menjadi aset utama. Untuk pertanyaan yang saya mulai—Apa yang harus dilakukan dengan ekologi politik?—saya belum memiliki jawaban yang pasti. Saya hanya tahu bahwa jika saya tidak mencoba untuk mengubah istilah perdebatan dengan menemukan cara baru untuk mengikat Gordian knot ilmu pengetahuan dan politik, percobaan skala besar yang mana kita semua terlibat akan membuktikan tidak ada satu cara atau yang lainnya. Dia akan selalu kekurangan sebuah aturan yang disesuaikan; saya akan selalu menyesali diri sendiri karena kehilangan kesempatan untuk mendefinisikan ulang politik dari yang mungkin ditawarkan oleh ekologi.

Ada satu kendala lagi yang telah saya usahakan untuk memaksa diri saya. Sekalipun saya harus merombak kembali tiga pengertian kembar tentang alam, politik, dan ilmu pengetahuan, saya telah memilih untuk menggunakan baik dengan nada keras maupun hati-hati yang kerap menyertai karya-karya dari ekologi politik. Sekalipun saya sedang mempersiapkan untuk bekerja melalui serangkaian hipotesis yang mana masing-masing akan lebih aneh dari yang sebelumnya, hal ini tetap masuk akal sehat (common sense)*[2] bahwa saya berusaha untuk merefleksikan segalanya. Seperti yang terjadi, akal sehat bertentangan untuk sementara waktu dengan akal baik (good sense)*. Untuk mempercepat, saya perlu bergerak lambat, dan untuk menjadi sederhana, saya perlu menghadirkan sebuah penampilan sementara tentang radikalitas. Tujuan saya bukanlah membatalkan urutan mapan dari konsep-konsep tetapi untuk menggambarkan keadaan yang sebenarnya: ekologi politik sudah melakukan dalam praktek segalanya tentang yang saya tegaskan itu ada hubungannya. Saya hanya bertaruh bahwa urgensi-urgensi tindakan telah mencegahnya dari penentuan keaslian dari apa itu yang tercapai dengan cara meraba-raba, karena dia tidak paham pemutarbalikan dalam posisi ilmu-ilmu yang mana inovasi-inovasi tersebut berlaku. Satu-satunya layanan yang dapat saya berikan ekologi politik menawarkan interpretasi alternatif itu sendiri, sebuah akal sehat yang berbeda, sehingga dia dapat mencoba untuk menentukan apakah dia menemukan dirinya dalam posisi yang lebih nyaman atau tidak. Sampai sekarang, seperti yang saya lihat, para filsuf telah menawarkan penggunaan ekologi politik hanya dalam pakaian yang siap pakai. Saya percaya dia layak mendapatkan pakaian yang dibuat sesuai pesanan: mungkin dia akan menemukan sendiri kurang dibatasi, dan setelan yang lebih sedikit nyaman.[3]

Untuk menjaga buku ini pada kepanjangan yang masuk akal, saya berkata sedikit tentang studi lapangan yang mendasarinya. Karena saya tidak bisa membuat argumen dasar lebih mudah diakses dengan menunjangnya dengan bukti empiris yang kuat, saya telah menyusunnya dengan cermat sedemikian rupa sehingga pembaca selalu tahu kesulitan-kesulitan apa yang menunggu mereka: selain glosarium, saya juga membuat ringkasan pada akhir yang dapat berfungsi sebagai sebuah kotak bayi.[4]

Dalam Bab 1 kita akan membebaskan diri dari perhatian tentang alam dengan pertama-tama memutar pada kontribusi sosiologi ilmu pengetahuan, kemudian pada gerakan-gerakan ekologi (praktek mereka, sebagaimana berbeda dari filsafatnya), dan akhirnya pada antropologi komparatif. Ekologi politik, sebagaimana akan kita lihat, tidak dapat berpegang pada alam. Dalam Bab 2, saya akan melanjutkan sebuah pertukaran dari sifat-sifat antara manusia dan non-manusia (human and non-human)*; hal ini akan memungkinkan kita untuk membayangkan, atas nama kolektif (collective)*, sebuah pengganti bagi lembaga-lembaga politik yang dibawa telah secara janggal bersama-sama sampai sekarang di bawah naungan alam dan masyarakat. Kolektif baru ini akan memungkinkan kita untuk melanjutkan pada Bab 3 pada transformasi perbedaan bijak antara fakta dan nilai; kita akan menggantinya dengan pemisahan kekuasaan (separation of powers)* yang baru yang akan menawarkan pada kita jaminan moral yang lebih memuaskan. Perbedaan antara dua kumpulan baru—pertama-tama akan bertanya, “Berapa banyak kita?” dan yang kedua, “Bisakah kita hidup bersama?”—akan melayani ekologi politik sebagai Konstitusi-nya. Dalam Bab 4, pembaca akan dihargai atas usaha mereka oleh sebuah “perjalanan yang terpandu” tentang lembaga-lembaga baru dan oleh sebuah penampilan dari profesi-profesi baru yang berkontribusi pada gelora dari sebuah badan politik yang akhirnya menjadi berfungsi. Kesulitan-kesulitan akan mulai lagi di Bab 5, ketika kita diwajibkan untuk mencari sebuah pengganti dari pembagian kuno yang memisahkan alam (dalam bentuk tunggal) dari budaya-budaya (dalam bentuk jamak), dalam rangka sekali lagi mengangkat pertanyaan tentang jumlah kolektif dan komposisi progresif dari dunia biasa (common world)* bahwa perhatian tentang alam, seperti juga tentang masyarakat, telah disederhanakan secara prematur. Akhirnya, dalam kesimpulan, saya akan menjawab pertanyaan tentang jenis Leviathan yang memungkinkan ekologi politik untuk meninggalkan keadaan alamiah. Dalam pandangan tentang cara pandang yang telah menyeluruh, pembaca mungkin akan memaafkan saya atas kegersangan perjalanan.

Sebelum mengakhiri pendahuluan ini, saya perlu mendefinisikan penggunaan khusus yang akan saya gunakan dari kata kunci “ekologi politik” (political ecology)*. Saya juga menyadari bahwa adalah biasa untuk memisahkan ekologi ilmiah dari ekologi politik, yang pertama diprakteikan di laboratorium-laboratorium dan ekspedisi lapang, yang terakhir dalam gerakan militan dan di Parlemen. Tapi karena saya mengusulkan untuk merangkai ulang perbedaan mendasar dari kedia istilah “ilmu pengetahuan” dan “politik” dalam setiap hal khusus, maka akan jelas bahwa kita tidak dapat mengambil perbedaan dari apa yang tertulis, karena itu akan menjadi lemah seiring kita bergerak maju. Setelah beberapa halaman, pada setiap kesempatan, akan berguna dalam membedakan antara kelompok-kelompok orang yang ingin memahami ekosistem, mempertahankan lingkungan, atau melindungi alam, dan mereka yang ingin menghidupkan kembali kehidupan publik, karena kita akan belajar bukan untuk membedakan komposisi dari dunia biasa yang dibangun “sesuai proses yang benar” dari sebuah dunia yang berkembang tanpa aturan. Untuk saat ini, saya akan mempertahankan istilah “ekologi politik,” yang tetap sebuah lambang misterius yang memungkinkan saya untuk mengarahkan—tanpa mendefinisikannya terlalu cepat—cara yang tepat untuk menulis dunia umum, suatu jenis dunia yang disebut orang Yunani sebagai sebuah kosmos (cosmos)*.


[1] Cukup mengejutkan untuk dicatat bahwa, sementara sebagian besar isu yang diangkat oleh gerakan ekologi tergantung sepenuhnya pada ilmu pengetahuan untuk visibilitas mereka, pengecualian untuk aturan ini masih sedikit jumlahnya. Kita mungkin berpikir, misalnya, tentang efek rumah kaca, atau tentang hilangnya paus secara bertahap; dalam setiap contoh, disiplin ilmiah berubah menjadi di garis depan, yang mana tidak terjadi pada gerakan sosial lainnya. Kita menemukan salah satu pengecualian dalam Serge Moscovici (1977(1968)), suatu pengecualian semua yang lebih berharga tentang buku itu ditulis lebih dari tiga puluh tahun yang lalu. Namun, buku serial Michel Serres (1995) adalah salah satu yang menetapkan hubungan paling dekat antara pertanyaan yang berfokus pada ilmu pengetahuan dan pertanyaan yang ditujukan kepada ekologi dari sudut pandang gabungan antropologi hukum dan pengetahuan. Karya ini memperluas beberapa kemajuan Serres tentang fungsi kontraktual dari ilmu-ilmu pengetahuan. Ulrich Beck (1997) juga kerap menyinggung pada sosiologi tentang ilmu pengetahuan, seperti halnya Pierre Lascoumes (1994), dalam sebuah buku yang sangat penting bagi karya saya. Untuk sisanya, kecuali untuk karya tentang partisipasi publik (Irwin dan Wynne 1996; Lash, Szerszynski, dan Wynne 1996), persinggungan antara studi-studi ekologi dan pengetahuan tetap sporadis menakjubkan. Masih, kita punya Steven Yearley (1991), Klaus Eder (1996), dan George Robertson (1996).

[2] Semua istilah yang ditandai dengan tanda bintang dibahas dalam glosarium pada akhir buku, hal. 237. Sebagaimana saya telah menghindar dari setiap inovasi linguistik, saya menggunakan tanda ini untuk mengingatkan pembaca bahwa ekspresi umum tertentu harus dipahami secara agak teknis yang akan dispesifikasikan sedikit demi sedikit.

[3] Dalam “geopolitik” filsafat tentang alam, Prancis memanfaatkan dari keunggulan komparatif karena perhatian tentang sebuah alam ahuman yang seharusnya dilindungi tidak pernah berakar di sini. Dari Diderot sampai François Dagognet (1990), melalui Bergson, André Leroi-Gourhan (1993), dan André-George Haudricourt (1987), kita menemukan di Perancis sebuah tradisi “konstruktivis” yang kaya yang memuji sifat artifisial dari alam, berterima kasih pada tokoh-tokoh industrial dari sang insinyur. Sebagai contoh, kita menemukan versi mencolok dari konstruktivisme yang berasal dari Prancis dalam Moscovici: “Dunia berbalik kembali pada kecerdasan, berubah kulit menjadi bintang mati, mengingkari makna keberadaannya sendiri, jika, dalam peristiwa konstitusinya, seseorang tidak melihatnya mewujudkan kerja dari gembala atau petani, tukang kayu atau pembuat jam; aku akan menambah perbandingan ini pada segala jenis ilmuwan” (1977, 170). Sayangnya, Perancis percaya bahwa mereka telah mengkritik versi Amerika tentang alam hanya dengan menunjukkan bahwa tidak ada alam yang bukan buatan manusia. Begitu mereka telah mengkritik ekologi yang mendalam dan rasa hormat yang berlebihan untuk yang bersifat mitis, bahwa dari “alam liar,” mereka pikir tidak ada lagi yang perlu mereka pikirkan (Ferry 1995).

[4] Setelah belajar dari pengalaman bahwa seseorang tidak harus menuntut terlalu banyak dari para pembaca, saya telah mengumpulkan buku ini seolah-olah mengandaikan dia tidak tahu karya saya sebelumnya. Mereka yang akrab dengan karya tersebut yang akan melihat, bahwa saya kembali ke topik yang saya dibahas dalam bab terakhir dari penyelidikan saya terhadap Konstitusi modern (Latour 1993); saya melihat lagi apa yang saya sebut Parlemen Benda-benda (Parliament of Things), yang pada saat itu tampak, seakan-akan, dari luar. Fakta bahwa hal itu telah membawa saya hampir sepuluh tahun untuk menggambarkannya dari dalam tidaklah mudah membuktikan bahwa saya berpikir lambat. Saya kemudian berpikir bahwa orang belum melakukan pekerjaan yang baik membicarakan tentang ilmu pengetahuan tetapi mereka tahu bagaimana berhadapan dengan politik. Saya tidak membayangkan bahwa politik akan banyak berbeda dari gambaran tentangnya oleh ilmu politik sebagaimana ilmu membedakan gambar tentangnya oleh epistemologi. Saya telah keliru. Saya membahas masalah ini dalam karya lain, yang merupakan edisi kembar dari yang satu ini, yang mana saya mencoba untuk mengambil filosofi yang tepat untuk studi ilmiah yang mana rekan-rekan saya dan saya telah terlibat selama beberapa tahun belakangan, dan yang telah memiliki banyak kesulitan mencari akar (Latour 1999b). Akhirnya, buku ini jelas mengandaikan suatu teori yang sepenuhnya berbeda tentang sosial dibandingkan yang didukung oleh ilmu-ilmu tentang masyarakat (society)* (sebuah penghargaan sederhana, seperti akan kita lihat, pada politik alam yang dikritik pada halaman-halaman berikutnya).

, , Notes, Translation

Leave a Comment