Apalah fungsi sebuah nama?

Shakespeare boleh saja mempertanyakan, ‘What is in a name?’” (Apa arti sebuah nama?), tapi berdasarkan pengalaman tinggal di Jerman, dan mungkin berlaku juga di negara-negara lain di Eropa, nama tidak sekadar punya arti atau makna. Lebih dari itu, nama memiliki fungsi sosial-administratif.

Jika Anda menduga fungsi sosial sebuah nama adalah untuk memberi identitas seseorang, maka itu tidak sepenuhnya keliru. Namun berdasarkan pengalaman, saya melihat nama seseorang berfungsi bagi kemudahan administrasi dalam sistem negara-birokratis-modern, seperti Jerman. Dalam birokrasi, nama memiliki fungsi politik yang penting untuk efisiensi kerja, yang baru saya sadari belakangan setelah saya sudah tinggal di Jerman.

Bukan “priyayi” Jawa

Saya terlahir dari keluarga yang tidak terlalu mensakralkan nama keluarga — sehingga menjadikan nama belakang bagi setiap anggota keluarga kami. Sekalipun saya berasal dari Jawa, namun rupanya “tradisi priyayi” untuk melestarikan nama tidak menurun dalam keluarga besar saya, begitu juga keluarga besar istri saya.

Nama “Novenanto” itu bukanlah nama keluarga dari ayah saya. Alih-alih bernama “Novenanto”, ayah saya memiliki nama belakang “Susilo” — sebuah nama yang umum bagi orang Jawa, bahkan presiden Indonesia saat ini juga memiliki komponen nama “Susilo” sebagai nama depannya. Nama “Susilo” itu juga bukan berasal dari nama belakang kakek saya, “Soewondo”, yang lagi-lagi adalah nama umum bagi orang Jawa. Kakek saya tidak punya tradisi untuk menurunkan nama keluarga. Tidak satupun nama belakang dari saudara-saudara ayah saya yang menurun dari nama kakek (e.g., Purwoko, Susilowati, Trikoranto, Prasatsiwi, Desembyanto, Nirbianto, dan Yaniputro). 

Dari garis keluarga besar ibu pun berlaku hal yang serupa. Nama belakang ibu saya, “Adianti” jelas bukan turunan dari nama ayahnya, “Soekartono”. Ketika ibu saya menikah dengan ayah, nama “Adianti” tidak kemudian hilang dan berganti mengikuti nama suaminya, “Susilo”. Dari modus semacam ini,  dapat diambil kesimpulan bahwa saya bukan berasal dari keluarga priyayi!

Istri saya pun rupa-rupanya juga bukan berasal dari keluarga priyayi. Nama “Indriani” jelas bukanlah berasal dari nama belakang ayahnya, “Boenadi”, atau ibunya, “Rahayu”. Pun setelah kami menikah, nama belakang istri saya tidak secara otomatis berubah menjadi “Novenanto”. Namanya tetap, “Indriani”.

Kami pun semakin tercerabut dari tradisi priyayi, ketika anak kami lahir, dan nama belakang yang kami berikan padanya adalah “Ksatriani”. Tidak ada hubungannya dengan “Novenanto” ataupun “Indriani”, melainkan saya ambilkan dari nama gitaris favorit yang saya gandrungi waktu itu, ‘Joe Satriani‘. Huruf “K” ditambahkan depan agar bisa berima dengan nama depannya “Krishnamurti”.

Tiga nama

Jadilah, ada tiga nama belakang yang berbeda dalam keluarga kami (Novenanto, Indriani, dan Ksatriani). Selama tinggal di Indoensia, perbedaan nama belakang itu tidak pernah menjadi masalah. Pertanyaan Shakespeare — “apalah arti sebuah nama?” — berlaku dalam keluarga kami. Namun begitu kami semua tinggal di Jerman, nama belakang yang berbeda itu berdampak pada beberapa hal.

Pertama, kotak surat. Di Jerman, struktur bangunan tempat tinggal (Wohnung) model flat/rumah susun —satu gedung dihuni oleh banyak keluarga — menyebabkan setiap Wohnung memiliki kotak surat di lantai dasar setiap gedungnya. Salah satunya, memang masalah efisiensi, memudahkan tukang pos jika ada surat datang. Dia tidak perlu mendatangi masing2 Wohnung untuk mengantar surat, tapi cukup memasukkan masing2 surat itu ke dalam kotak surat yang biasanya terlokasi di satu tempat di lantai dasar masing2 gedung.

Sejak mengontrak pertama kali, nama yang tertempel di kotak surat Wohnung kami adalah “Novenanto/Indriani”. Tidak ada nama “Ksatriani” di kotak surat kami. Permasalahan muncul ketika anak kami masuk ke sekolah yang baru, dan konsekuensinya dia mendapatkan surat sendiri atas namanya sendiri.

Kealpaan nama “Krishnamurti” di kotak surat kami, membuat kami sampai harus dua kali mendatangi kantor RNV — perusahaan transportasi lokal di Heidelberg — untuk mengambil kartu bulanan naik transportasi umum— MaxxTicket — anak kami, karena kartu tersebut tidak kunjung datang. Menurut petugas di kantor RNV, surat yang berisi MaxxTicket itu dikembalikan ke RNV karena si tukang pos tidak menemukan nama “Ksatriani” di kotak surat yang dimaksud. Seandainya, anak saya menggunakan nama belakang “Novenanto” tentu surat tersebut sudah datang tepat waktu, tanpa kami harus mendatangi kantor RNV. Sejak saat itu, kami memutuskan untuk menuliskan nama anak kami di selembar kertas, lalu menempelkannya di kotak surat. Alhasil, memang ada beberapa surat atas nama anak saya, dari beberapa kantor, yang masuk ke kotak surat itu.

Kedua, mengurus ijin tinggal. Kantor imigrasi tempat kami terdaftar sebagai imigran di Jerman menerapkan suatu sistem kerja yang cukup unik — setidaknya bagi saya. Masing-masing petugas di kantor itu hanya menangani administrasi berdasarkan nama belakang dari para imigran. Misalnya, nama belakang yang berawalan huruf A sampai huruf C diurusi petugas 1, yang berawalan huruf D sampai F oleh petugas 2, G sampai I oleh petugas 3, dan begitu seterusnya. Nah, akibat nama belakang yang berbeda, jadi saya, istri dan anak diurusi oleh tiga petugas yang berbeda.

Baru-baru ini kami mengurus perpanjangan ijin tinggal. Kami memasukkan berkas secara bersama-sama. Namun, selesainya beda-beda. Ijin tinggal istri saya selesai lebih dahulu. Menyusul ijin tinggal saya. Sementara ijin tinggal anak saya belum kelar sampai sekarang.

Ketika saya mengambil ijin tinggal di Rathaus Eppelheim, saya bertanya pada petugas, kenapa ijin tinggal anak saya belum keluar juga — padahal punya istri dan punya saya sudah selesai? Petugas mengecek di komputernya, lalu menjawab. Intinya, ijin tinggal anak saya, baru bisa keluar jika ijin tinggal saya selesai. Karena nama belakang kami berbeda, petugas yang mengurus ijin tinggal anak saya, harus menunggu kabar dari petugas yang mengurus ijin tinggal saya — dan istri saya, sebelum si petugas itu bisa mengeluarkan ijin tinggal anak saya.

Si pegawai di Rathaus Eppelheim pun menambahkan, seandainya nama keluarga kalian sama, bisa jadi ijin tinggal kami sekeluarga keluar bersamaan karena yang petugas yang mengurus satu orang. Dengan tiga nama yang berbeda, maka saya harus menunggu masing-masing petugas itu untuk berinteraksi satu sama lain. Pegawai itu pun meminta saya untuk menunggu paling lama dua minggu, jika dua minggu belum keluar, maka saya diminta untuk datang lagi ke Rathaus Eppelheim.

Jadi itulah fungsi sebuah nama keluarga untuk Pemerintah Federal Jerman! Efisiensi administratif.

Diary

Leave a Comment