The Insider

Beberapa waktu lalu, saya menonton film berjudul The Insider. Saya juga menonton film-film lain yang terkait dengan kehidupan jurnalis, seperti All the President’s Men dan State of Play, Saya memang sengaja memilih judul-judul tersebut karena sedang mencari inspirasi menulis sebuah bab untuk bunga rampai yang ditulis bersama seorang kawan. namun saya akhirnya hanya menggunakan resensi singkat The Insider sebagai pembuka bab yang saya tulis bersama Anastasya Andriarti. Menurut saya, The Insider merupakan sebuah film yang dahsyat, tapi gagal di pasar. Film itu mengangkat tema tentang bagaimana jurnalis harus berjuang untuk menuju profesionalitasnya. Pada saat bersamaan, saya sedang menulis sebuah bab tentang bagaimana jurnalis harus berada dalam dualitas: “profesionalitas sebagai jurnalis” dan “loyalitas kepada pemilik media.”

Berikut kutipan 8 paragraf resensi film tersebut yang membuka tulisan “Kasus Lapindo di Balik Tivi Merah” yang akan muncul dalam bunga rampai bertajuk Membingkai Lapindo (2013) tersebut:


Pada tahun 1999, Michael Mann membesut sebuah film berjudul The Insider yang diangkat dari kisah nyata di balik produksi program 60 Minutes di stasiun CBS pada pertengahan 90an. Naskah film tersebut diadaptasi dari artikel Marie Brenner berjudul ‘The Man Who Knew Too Much’ yang dimuat dalam majalahVanity Fair.

Secara garis besar, film tersebut merupakan kisah perjuangan seorang Lowell Bergman (Al Pacino), produser program 60 Minutes, dalam memperjuangkan berita tentang industri rokok di Amerika. Dalam berita tersebut, Lowell berhasil mewawancarai Jeffrey Wigand (Russell Crowe) yang baru saja dipecat dari sebuah perusahaan rokok besar di Amerika. Setelah melalui proses negosiasi yang panjang, Bergman berhasil meyakinkan Wigand untuk berani bersaksi, sebagai whistle-blower, tentang bahaya adiktif nikotin dari rokok. Konflik utama film itu muncul ketika wawancara khusus presenter Mike Wallace (Christopher Plumer) dengan Wigand dilarang tayang oleh manajemen CBS. Dari penelusuran Bergman, pemilik CBS berencana menjual sahamnya pada seseorang yang juga memiliki di bisnis rokok. Pemberitaan tentang bahaya adiktif nikotin dinilai manajemen bakal berdampak pada rencana penjualan saham CBS. CBS pun menayangkan wawancara dengan Wigand tidak secara utuh, namun melalui proses sensor dan editing.

Sebagai produser Bergman merasa berkepentingan untuk menyampaikan ‘informasi yang penting bagi semua orang’ – bahwa rokok itu adiktif. Berbekal jejaring dengan sesama rekan jurnalis di media lain, Bergman mulai melakukan sebuah aksi tersembunyi untuk menyerang manajemen CBS, dengan mengangkat skandal di manajemen CBS. Dia menjadi informan anonim bagi editorial The New York Times tentang skandal tersebut. Setelah editorial tersebut naik cetak, CBS pun akhirnya menayangkan segmen wawancara Wigand secara utuh tanpa sensor.

Film tersebut merupakan kisah heroik duo Wigand (whistle-blower industri rokok) dan Bergman (jurnalis dalam struktur ekonomi-politik organisasi media). Kehadiran dua aktor dari dua struktur yang berbeda menyebabkan struktur politik yang lebih besar, negara, harus kebakaran jenggot. The Insider merupakan sebuah pembuktian dari apa yang pernah dikatakan Anthony Giddens sebagai ‘agensi’ dan ‘strukturasi’ (lih. Giddens 1984). Asumsinya, agensi bisa mengubah struktur karena dia memiliki sumberdaya seperti: moralitas dan kuasa. Wigand dan Bergman adalah dua aktor yang mengubah dirinya menjadi agensi dalam upaya melakukan strukturasi.

Dalam ilmu sosial, khususnya sosiologi, teori mengenai tindakan seakan terbelah menjadi dua: strukturalis dan eksistensialis. Kubu strukturalis melihat tindakan individu tak lebih dari cerminan struktur sosial. Dengan kata lain, struktur merupakan determinan bagi segala tindakan sosial. Pandangan ini digagas oleh Karl Marx yang melihat struktur ekonomi sebagai determinan dalam analisa tindakan sosial. Emile Durkheim memperkuat determinasi struktur atas individu. Individu adalah bagian dari masyarakat. Individu bertindak karena struktur sosial memaksa dia bertindak. Sementara itu, kubu eksistensialis melihat individu sebagai aktor yang memiliki kapasitas transformatif dan memiliki kehendak bebas yang bisa jadi tidak sejalan dengan struktur yang melingkupinya. Sebagai mahluk sosial, individu tidak dilihat sebagai sesuatu ditentukan oleh struktur namun, mengikuti Max Weber dan Georg Simmel, aktorlah yang menentukan arah dari struktur sosial.

Giddens muncul sebagai penengah dalam dikotomi struktur-aktor dengan memunculkan konsep bernama agensi. Konsep agensi sedikit berbeda dengan konsep individu atau aktor. Bagi Giddens, struktur sosial bukanlah sesuatu ‘yang mati’ namun terus berubah akibat dari dinamika dari para agensi di dalamnya. Agensi merupakan aktor yang hidup dalam struktur yang secara aktif menggunakan sumberdaya (resources)yang dimilikinya untuk melakukan prosesstrukturasi atas struktur yang sudah ada (rules). Giddens melihat strukturasi sebagai konsekuensi dari relasi antara struktur dan agensi. Pada satu sisi, struktur tidak bisa bertahan tanpa keberadaan agensi yang mereproduksinya dalam kehidupan sosial. Praktik sosial para agensi pun, pada sisi lain, tidak bisa keluar dari struktur tempatnya berada. Bahkan tindakan yang menyimpang dari struktur (devian) hanya bisa dilakukan justru ketika ada standardisasi tindakan yang sesuai dengan struktur.

Dalam konteks lembaga media, pertentangan terjadi antara kubu radikal yang melihat jurnalis bekerja dalam struktur tertentu yang ditentukan oleh organisasi media tempatnya bekerja, pada satu sisi, dan, pada sisi lain, kubu liberal yang melihat jurnalis sebagai agen bebas yang berhak menentukan sikapnya secara independen sekalipun mereka hidup dan bekerja dalam struktur organisasi media tertentu. Produser 60 Minutes, Bergman menempatkan dirinya melampaui perannya sebagai seorang agensi di CBS, tapi juga sebagai seorang agensi dalamstruktur sosial yang lebih besar, yaitu masyarakat, untuk mencapai hakikat profesionalitas seorang jurnalis, menyebarkan informasi yang menurutnya penting diketahui bagi semua orang.

Akan tetapi, peran jurnalis, sebagai agensi di sebuah organisasi media, tidaklah selalu seperti Bergman dalam The Insider, yang digambarkan sebagai jurnalis yang terus gigih berjuang untuk menyampaikan yang menurutnya ‘penting untuk disampaikan pada publik.’ Media merupakan sebuah ruang publik yang dibatasi oleh ruang dan waktu, berita yang diterbitkan atau disiarkan harus berada dalam ruang dan waktu tertentu. Memberitakan sesuatu yang dianggap penting tentu merupakan sesuatu bukannya tanpa konsekuensi. Penyajian suatu realitas dalam ruang publik, berarti pula penyingkiran realitas-realitas lain dari ruang publik tersebut. Dalam konteks film The Insider, enampuluh menit menyajikan sebuah wawancara eksklusif dengan Wigand berarti pula mengabaikan kehadiran pembahasan tentang isu yang lain yang mungkin juga dibutuhkan oleh publik tapi tidak dianggap penting oleh produser.

, , Film Review, Notes

Leave a Comment