Tentang Relasi Manusia dan Teknologi

[disusun dari catatan kuliah yang berserakan dan dampak membaca Heidegger]

Saya akan mulai dengan bertanya: “apakah sosiologi merupakan ilmu yang irasional?” Menurut saya, mengikuti usul Habermas tentang dua tindakan rasional, sosiologi akan menjadi sebuah disiplin yang irasional jika sosiologi hanya berhenti pada rasionalitas instrumental saja, dan tidak menyentuh pada masalah rasionalitas komunikatif.[1] Untuk itu, perlulah diulang sejenak tentang konsep “kerja” dan “interaksi” menurut Habermas, baru kemudian dikontekstualisasikan pada permasalahan yang diungkapkan oleh mahasiswa tersebut. “Kerja”, atau tindakan bertujuan rasional, merupakan tindakan untuk menyesuaikan diri pada aturan-aturan tehnis; sementara itu, “interaksi”, atau tindakan komunikatif, merupakan tindakan untuk menyesuaikan diri pada norma-norma yang berlaku wajib.[2]

Kemudian bertanyalah saya, “apakah sosiologi akan digunakan sebagai sarana menyesuaikan diri dengan aturan-aturan teknis?” Ataukah, “sosiologi juga akan digunakan untuk saling memahami antar-elemen dalam masyarakat?”

Irasionalitas mempelajari sosiologi akan dengan mudah muncul ketika pemelajar sosiologi hanya menempatkan ilmu itu sebagai sebuah sarana untuk menyesuaikan diri dengan aturan-aturan teknis. Padahal sosiologi bukanlah ilmu teknik yang memang berhenti pada pencapaian tujuan rasional instrumental, atau penciptaan dan penggunaan instrumen-instrumen yang dipercaya bakal mengatasi segala masalah masyarakat. Menggunakan kerangka berpikir Habermas, sosiologi juga berguna untuk memahami masyarakat; sosiologi bukanlah semata sebuah ilmu yang bisa digunakan sebagai modal untuk mencari kerja, menghasilkan uang semata, ­­namun ­­— yang tak kalah pentingnya dan sering dilupakan — sosiologi sebagai ilmu untuk semakin memahami masyarakat, membangun kepercayaan antar-individu sebagai modal bagi berkembangnya masyarakat. Di sinilah, menjadi jelas mengapa Habermas kemudian menggolongkan sosiologi dalam rumpun ilmu tindakan-emansipatoris.[3] Bagi Habermas, sosiologi merupakan ilmu emansipatoris, yaitu bertujuan memberdayakan masyarakat, yang menjadikan masyarakat sebagai subjek yang aktif sebagai penggerak utama perubahan, atau yang disebut Habermas sebagai “rasionalisasi dari bawah”.

Masih sedikit sosiologi yang menyadari kepentingan dari ilmu yang dipelajarinya itu. Sementara masih banyak yang memperlakukan masyarakat sebagai objek yang hanya pasif menerima seperangkat instrumen yang diciptakan secara rasional oleh para ahli sebagai landasan dasar dan arah perubahan (“rasionalisasi dari atas”).

Habermas berusaha mengusulkan suatu gagasan pencerahan atas kegagalan usaha Weber dan Marcuse menterjemahkan rasionalitas, yang melahirkan ilmu dan teknik dalam masyarakat modern.[4] Habermas menilai Marcuse hanya mandeg pada analisis bahwa ilmu dan teknik sebagai buah dari rasionalitas ternyata telah menjadi ideologi baru bagi para pengguna rasionalitas. Kesimpulan ini pulalah yang menjelaskan tentang Marcuse yang ragu-ragu, bahkan cenderung mempertanyakan makna di balik merelatifkan rasionalitas ilmu dan teknik sebagai suatu rencana perbaikan. Keragu-raguan Marcuse dilandasi kekhawatirannya bahwa rasionalitas akan melahirkan irasionalitas.[5]

Namun, di balik kritiknya atas Marcuse (dan Weber), sebenarnya Habermas melanjutkan proyek Marcuse untuk tidak hanya sekadar menyusun teori baru, namun menyusun metodologi yang secara prinsipil berbeda. Usaha itu diawalinya dengan memisahkan dua bentuk tindakan rasional, yaitu rasional tujuan/instrumental dan rasional komunikatif. Habermas melihat baik Weber dan Marcuse, serta juga para ilmuwan Marxian, lebih melihat modernisasi sebagai suatu konsekuensi dari usaha manusia yang rasional tujuan/instrumen, dan mengabaikan rasionalitas komunikatif sebagai solusi atas paradoks modernitas. Dia pun mengusulkan sebuah usaha “rasionalisasi dari bawah” yang digerakkan oleh rasionalitas komunikatif sebagai alternatif “rasionalisasi dari atas” yang selama ini terjadi.

Pada akhir esainya itu, Habermas mengkritik aksi protes mahasiswa dan pelajar karena, tanpa disadari, telah di-depolitisasi oleh rasionalitas itu sendiri. Habermas ingin menunjukkan bahwa usaha modernisasi bukan semata dapat selesai dengan “kerja” (gerakan ekonomi-politik), namun bisa dilakukan juga melalui “interaksi” (komunikasi). Bagi Marcuse, dalam rasionalisasi yang dimaksudkan Weber telah meninggalkan rasionalitas yang sebenarnya. Rasionalisasi kemudian tak lebih dari “suatu bentuk tertentu kekuasaan politik terselubung atas nama rasionalitas.” Artinya, “atas nama kebenaran”, rasionalitas telah dipolitisasi. Masalahnya, proses ini berjalan tanpa disadari, oleh mereka yang katanya rasional itu, dan Habermas ingin membongkar itu semua.

Bagi saya, akan sangat irasional bagi seseorang mempelajari sosiologi ketika dia tidak yakin bahwa yang dipelajarinya – sosiologi – adalah rasional. Namun, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana keluar dari rasionalitas sosiologi yang cenderung dominatif tersebut – dan mengarah pada irasionalitas?

Untuk menjawab itu perlulah kita mendiskusikan artikel Habermas tersebut dengan karya monumental Herbert Marcuse (1964, One Dimensional Man). Bagi Marcuse, teknologi merupakan buah dari rasio manusia modern, bahkan disebut sebagai usaha rasional manusia yang menyempurnakan diri. Teknologi diciptakan demi kemudahan kerja manusia modern. Mesin-mesin industri, misalnya, diciptakan agar kegiatan industri menjadi semakin efektif dan efisien, sehingga produktivitas meningkat tajam. Ini adalah hukum dasar dunia industri, yaitu memacu laju produksi. Akan tetapi, teknologi canggih yang merupakan produk usaha rasional manusia untuk membebaskan diri dari keterbatasannya, dalam perkembang selanjutnya ternyata telah membelenggu dan menindas masyarakat serta menjadi alat untuk menguasai orang lain.

Marcuse telah sampai pada satu titik pemikiran bahwa kekuatan teknologi telah membuat hidup lebih enak sampai-sampai masyarakat kehilangan kesadaran kritisnya. Pada titik inilah, Marcuse melihat bahwa kondisi ini menyebabkan tidak saja melemahkan akses publik pada politik, bahkan telah masuk juga pada bidang budaya dan seni. Pertanyaan yang paling mendasar yang mungkin terlintas di benak Marcuse adalah: apakah manusia yang sedang mengendalikan teknologi? Ataukah, manusia sedang dikendalikan teknologi?

Pada waktu Marcuse menulis One Dimensional Man, media massa sedang naik daun. Menjadi wajar bila analisis Marcuse banyak melihat pada fenomena iklan sebagai ujung tombak penciptaan kebutuhan-kebutuhan semu. Akibatnya, dalam istilah Marcuse, bahkan dalam hal penciptaan kebutuhannya manusia modern pun sudah dikendalikan oleh teknologi. Indra manusia sedang dikendalikan oleh teknologi, yang bahkan manusia sendiri pun tidak menyadarinya, bahkan cenderung menikmatinya. Inilah yang dilihat Marcuse tentang teknologi yang sedang melakukan kontrol atas tindakan manusia. Tanpa sadar teknologi telah mengendalikan manusia hanya karena sebuah fakta yang secara sadar diakui bahwa teknologi bukanlah manusia; yang terjadi bukanlah teknologi yang menyesuaikan diri pada manusia, melainkan manusia yang perlu menyesuaikan diri pada teknologi.

Di sinilah letak dominasi teknologi atas manusia. Manusia menciptakan teknologi adalah untuk kemudahan-kemudahan geraknya. Pada mulanya, manusia membuat teknologi untuk menggantikan fungsi alat gerak (alat-alat teknis dan mesin), lalu fungsi energi (listrik), kemudian fungsi indra (media massa), dan kini teknologi pun mulai menggantikan fungsi akal (komputer). Yang perlu dicermati, titik tolak analisis Marcuse belum sampai pada analisis terhadap teknologi canggih yang menggantikan fungsi akal itu, lebih karena saat Marcuse menulis, komputer belum diproduksi massal, dan hanya digunakan untuk kepentingan Perang Dingin. Meskipun begitu, kerangka berpikir Marcuse dapat digunakan untuk menganalisis fenomena perkembangan teknologi yang semakin kompleks tersebut. Teknologi sebelum komputer merupakan teknologi yang membantu kerja, dalam arti psikomotorik, manusia. Sebutlah teknologi sederhana seperti pisau yang digunakan untuk membantu mengupas atau memotong sesuatu. Atau mobil yang memudahkan manusia berpindah tempat sehingga tidak lagi capek untuk berjalan. Namun, lain daripada yang lain, komputer adalah suatu teknologi yang fenomenal karena misi manusia menciptakannya bukanlah semata untuk menggantikan kerja manusia, melainkan menggantikan akal manusia. Pertanyaan kritisnya: apa yang terjadi ketika rasio ternyata sudah digantikan oleh alat?

Komputer baru dikembangkan untuk publik pada 1970an, namun perkembangannya telah membantu manusia melakukan revolusi yang sangat dahsyat. Akan tetapi, komputer tetaplah teknologi hasil kreasi manusia, yang seperti dikatakan Marcuse, memiliki kecenderungan untuk melakukan eksploitasi terhadap manusia dan alam akibat sebuah sifat teknologi yang merupakan representasi dari rasio dan cenderung untuk melakukan dominasi; bagaimanapun teknologi bukanlah rasio itu sendiri. Tidak ada usaha untuk mau mengerti lawan mainnya, manusia. Yang ada adalah bagaimana lawan main, manusia, harus berusaha mengerti dia. Dan hukum ini juga berlaku pada dunia komputer.

“Canggih” merupakan kata lain dari “rumit”. Semakin canggih suatu alat, berarti pula semakin rumit dia diciptakan. Artinya, manusia sebagai pengguna alat yang semakin canggih itu perlulah memahami kerumitannya terlebih dahulu sebelum dengan leluasa menggunakannya. Dalam komputer, manusia pun kembali menjadi mahluk mekanis yang terjebak pada masalah-masalah teknis. Dari titik inilah, menjadi masuk akal ide Habermas untuk memisahkan antara tindakan rasionalitas tujuan dengan rasionalitas komunikatif; rasio tidak semata-mata berfungsi menguasai yang lain (seperti yang diterjemahkan dalam bentuk teknologi), namun juga bagaimana rasio berfungsi untuk memahami yang lain.

Oleh karena itu, refleksi kritisnya adalah: apakah manusia yang sudah tidak lagi membuka kesempatan untuk memahami lawan main, manusia lain, dan hanya mementingkan agar manusia lain itu yang memahaminya, tak lain dan tak bukan, adalah sebuah mesin?


[1] Lih. Habermas. J., 1990. “Ilmu dan Teknologi sebagai Ideologi.” Jakarta: LP3ES.

[2] ibid., hlm. 59-60.

[3] Tentang rumpun ilmu, baca: Habermas, J. (1990. “Pengetahuan dan Kepentingan.” Jakarta: LP3ES). Dalam artikel tersebut, Habermas membagi tiga rumpun ilmu, yaitu: ilmu empiris-analitis (teknik), ilmu historis-hermeneutis (bahasa dan sejarah), dan ilmu tindakan-emansipatoris (sosiologi). Pada rumpun yang ketiga pengaruh pemikiran Marx sangat kentara. “Ilmu tidak hanya digunakan untuk menjelaskan dunia, tapi yang lebih penting adalah untuk mengubah dunia (Tesis ke-11 Marx dalam Thesen uber Feuerbach).” Setiap ilmu selalu ideologis, tidak pernah bebas-nilai, karena itu menjadi penting untuk menyadari adanya kepentingan itu.

[4] op. cit., hlm. 56.

[5] Habermas mencontohkan bahwa dalam era kapitalisme lanjut ini negara lebih berfungsi untuk menstabilkan dan menjamin pertumbuhan sistem ekonomi. Tulisnya, “[…] politik sekarang menampilkan suatu sifat negatif yang khas: ia diarahkan pada upaya mengatasi disfungsionalitas-disfungsionalitas dan menghindari risiko-risiko yang membahayakan sistem, jadi tidak kepada upaya merealisasikan tujuan-tujuan praktis, melainkan kepada upaya memecahkan masalah-masalah teknis” (ibid., hlm. 76). Inilah yang kemudian dimaksud Habermas sebagai usaha depolitisasi kedaulatan rakyat. Politik telah melalaikan tujuan awal, yaitu mewujudkan cita-cita bersama, dan terjebak pada penyelesaian masalah-masalah yang sifatnya teknis.

Comment, Notes

Leave a Comment