Menulis Etnografi

Tulisan singkat ini akan membahas sedikit tentang bagaimana menulis suatu etnografi dari seorang yang tidak pernah dididik secara formal dalam tradisi antropologi sekolahan.

Tulisan ini merupakan sebuah respons dari sebuah artikel lain berjudul Writing an Ethnography yang saya baca di situs Bethel College. Karena merupakan sebuah respons, itensi saya bukanlah untuk mengulas artikel Writing an Ethnography tersebut. Sebaliknya, dalam artikel ini saya berusaha untuk menyampaikan pergulatan yang saya alami ketika berusaha menulis suatu etnografi, tentu saja berangkat dari pesan utama yang disampaikan oleh artikel tersebut, ditambahkan dengan beberapa diskusi dengan para kolega.

Menurut saya, artikel Writing an Ethnography singkat tersebut merupakan sebuah bahan bacaan dasar yang sangat membantu bagi para pemelajar baru tentang cara (how to) menulis sebuah etnografi. Tentunya, dengan menyusun sebuah panduan tentang menulis sebuah etnografi, si penulisnya menjelaskan apa itu (what is) etnografi, dan tujuan (what for) penulisan etnografi. Secara umum, kesan yang saya tangkap dari artikel tersebut adalah demikian: pergulatan utama dari etnografer adalah tentang bagaimana cara agar yang umum bisa dipahami tidak ada cara lain selain menghadirkan yang spesifik secara proporsional. Ataupun, dalam bahasa berbeda, etnografi adalah tentang menghadirkan yang spesifik untuk menjelaskan yang umum.

Berdasarkan pengalaman saya, menulis sebuah etnografi bukanlah sebuah persoalan yang mudah, apalagi bagi mereka yang baru pertama berkenalan dengan metodologi yang satu ini. Mungkin karena saya menyakini bahwa etnografi lebih dari sekadar metode penelitian, namun sekaligus juga suatu gaya menulis yang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan gaya penulisan yang diusung oleh metode penelitian yang lain.

Akan tetapi, memang lebih mudah untuk membicarakan tentang bagaimana menulis etnografi, ketimbang menulis etnografi itu sendiri. Dari beberapa tulisan etnografi yang saya baca saya gagal menemukan suatu aturan yang baku tentang bahwa menulis etnografi itu harus begini, harus begitu. Strukturnya harus seperti ini, atau seperti itu. Dugaan saya, ketiadaan aturan baku dalam menulis etnografi merupakan konsekuensi dari objek (atau subjek) kajian dari tulisan etnografi, budaya, adalah sesuatu yang relatif. Keluwesan penulisan etnografi, selain dipengaruhi oleh keterampilan si penulisnya (etnografer), juga merupakan akibat dari pola-pola budaya dan makna terhadapnya nyaris tidak pernah sama di setiap titik di bumi yang bundar ini.

Sekalipun begitu, pada dasarnya, etnografi merupakan sebuah usaha dari etnografer untuk mendeskripsikan pola-pola budaya di suatu lokasi dan menjelaskan makna dari pola-pola budaya tersebut kepada para pembaca dari latar budaya yang berbeda. Sebenarnya, ada cara yang lebih mudah, yaitu: membawa orang-orang dari latar budaya berbeda itu ke lokasi budaya yang pola-pola budayanya hendak dideskripsikan dan maknanya hendak dijelaskan. Dengan kata lain: seeing is believing.

Namun, praktik ini tidak bisa dilakukan dengan mudah. Untuk itu yang bisa dilakukan adalah dengan menuliskan pola-pola budaya dan makna-makna yang melekat dengannya dalam suatu catatan etnografi. Oleh karena itu, membandingkan pola-pola budaya dan makna-makna yang melekat dengannya merupakan pergulatan utama seorang etnografer,karena menulis adalah satu-satunya cara/metode yang bisa dilakukan.

Akibat dari menulis sebagai satu-satunya metode untuk mendeskripsikan pola budaya dan menjelaskan maknanya adalah para etnografer dituntut untuk meningkatkan kapasitasnya dalam hal tulis-menulis. Etnografer adalah seorang mediator antara komunitas yang ditulisnya dengan pembaca yang membaca tulisannya. Sebuah proses yang mirip dengan reportase jurnalistik, apalagi model investigasi. Tentunya, ada beberapa yang membedakan antara laporan seorang jurnalis dengan laporan seorang etnografer. Pertanyaannya, apakah itu?

Jawaban atas pertanyaan itu sudah disampaikan secara eksplisit di awal artikel ini, tentang bahwa etnografer akan cenderung menghadirkan hal-hal yang spesifik yang ditemuinya di tempat penelitiannya untuk menjelaskan hal-hal yang umum. Sementara itu, laporan seorang jurnalis akan cenderung sekadar menghadirkan fakta-fakta yang secara spesifik dijumpainya, tanpa ada kewajiban untuk menghadirkannya sebagai representasi dari yang umum dalam pembaca dari latar budaya yang lain. Akan tetapi, ada hal yang perlu disepakati antara tugas seorang jurnalis dan seorang etnografer, yaitu kedua profesi tersebut sama-sama melakukan proses penterjemahan dari satu budaya kepada budaya yang lain melalui tulisan.

Comment, Notes

Leave a Comment