Kecelakaan Beruntun

Sebuah truk besar berkecepatan tinggi melanggar lampu merah di sebuah perempatan menabrak sekelompok pengendara mobil dan sepeda motor yang sedang berjalan beriringan.

Korban pun berjatuhan. Tidak hanya para pengendara, tapi juga para pejalan kaki. Ada yang tertabrak langsung oleh truk itu. Namun kebanyakan adalah korban dari tabrakan beruntun, tidak langsung tersenggol truk itu. Beberapa meninggal dunia. Banyak yang luka berat. Sisanya hanya luka ringan. Truk yang menabrak pun sudah tidak bisa lagi digunakan karena mengalami kerusakan berat.

 

Usut punya usut, rem truk tersebut blong. Padahal sudah ada peringatan pada pemilik dan sopir truk untuk segera mengganti kampas rem sebelum melanjutkan perjalanannya. Dengan alasan menghemat pengeluaran, pemilik truk tetap menyuruh sopirnya untuk tetap nekad melanjutkan perjalanan, mengabaikan peringatan untuk mengganti kampas rem, yang menurutnya akan banyak menguras kantong, sementara keuntungan belum juga didapatkan.

Menggunakan logika kecelakaan beruntun tersebut, tanggung jawab penuh atas dampak dari kecelakaan tersebut berada pada si pemilik truk. Sekalipun dia tidak berada di lokasi kecelakaan, namun atas perintahnyalah sopir nekad menginjak pedal gas, melanjutkan perjalanan beresiko tinggi itu. Seandainya, Seharusnya, pemilik truk bertanggungjawab penuh membiayai perawatan para korban kecelakaan. Mulai menyantuni para korban meninggal, sampai menanggung biaya penyembuhan para korban yang dirawat. Selain itu, tanggung jawab juga termasuk pembiayaan perbaikan semua kendaraan (mobil dan sepeda motor) yang rusak akibat ditabrak oleh truk miliknya. Setelah semuanya selesai diperbaiki, seluruh kendaraan tersebut dikembalikan pada pemiliknya, atau yang menjadi warisnya.

Tapi, skenario itu tidak pernah terjadi. Alih-alih memenuhi tanggung jawab seperti di atas, si pemilik truk memutuskan untuk membeli semua kendaraan yang ditabrak langsung oleh truk miliknya itu. Dari uang pembelian kendaraan itulah, para korban diharapkan dapat menanggung biaya kerugian yang diderita masing-masing. Ada beberapa kendaraan yang memang dibeli mahal, tapi banyak yang dibeli secara murah. Tergantung jenis. Harganya memang di atas harga pasaran dari masing-masing kendaraan, namun proses pembelian pun tidak dilakukan secara tunai langsung, tapi dilakukan dengan cicilan. Uang muka sebesar 20 persen dibayarkan terlebih dahulu, sementara sisanya dibayarkan kemudian.

Kerugian yang diderita masing-masing korban pun tidak pernah dihitung berdasarkan kerugian yang diderita mereka sebagai manusia, tapi dihitung berdasarkan jenis kendaraan yang dimiliki oleh masing-masing korban. Artinya, perbedaan penderitaan individu tidak pernah menjadi variabel untuk diperhitungkan sebagai kompensasi yang harus dibayarkan pada korban kecelakaan beruntun itu. Semua dihitung berdasarkan jenis kendaraan yang saat itu dinaiki oleh para korban, yang ditunjukkan dengan menunjukkan Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB). Oleh karena itu, bagi yang kebetulan mengendarai kendaraan pinjaman, maka yang berhak mendapatkan ganti-rugi dari pemilik truk tadi adalah pemilik kendaraan yang memegang BPKB.

Secara kebetulan, si pemilik truk juga memiliki bisnis jual-beli kendaraan bermotor yang sedang seret pembeli. Dengan alasan tidak memiliki uang tunai untuk membayar sisa tanggung jawab membeli kendaraan yang ditabrak oleh truknya, si pemilik truk menawarkan opsi tukar-tambah dengan stok kendaraan yang sedang dijualnya. Si pemilik truk berpikir bagaimana caranya agar dia tidak banyak mengeluarkan uang tunai dari kantongnya. Banyak korban dengan pelbagai paksaan dari pihak lain, akhirnya, menyetujui skema itu. Beberapa korban lain masih bersikukuh agar si pemilik truk membayar tunai apa yang sudah disepakati di awal. Beberapa korban lainnya, meski sedikit tapi ada, malahan bersikukuh untuk tidak menjual kendaraannya, walaupun kondisinya sudah tidak bisa digunakan lagi.

Hal penting lainnya yang perlu diingat, si pemilik truk hanya mau membeli kendaraan yang dalam kecelakaan beruntun itu terkena langsung oleh truk miliknya. Si pemilik truk tidak mau tahu dengan kondisi para korban yang tidak pernah disenggol langsung oleh truk miliknya.

Comment, Notes

Leave a Comment