Jam, Kereta Api, Topeng: Menonton Penghancuran Kreatif Kapitalis dalam “The Lone Ranger”

Pada peringatan hari kemerdekaan Amerika Serikat, 4 Juli 2013, Walt Disney Pictures, bekerjasama dengan Jerry Bruckheimer Films, merilis film The Lone Ranger. Dengan bintang utama Johnny Deep [sebagai Tonto] dan Armie Hammer [John Reid atau Lone Ranger], film yang disutradarai Gore Verbinski ini merupakan usaha pembuatan ulang karakter fiktif seorang pahlawan bertopeng dan seorang  rekannya bersama memberantas kejahatan.

Karakter Lone Ranger muncul pertama kali dalam sandiwara radio pada tahun 1930an. Karakter ini sudah berulang kali direproduksi dalam komik strip, buku komik, film kartun televisi, serial televisi, serta juga beberapa film sejak dia diciptakan. Banyak kritik meluncur atas The Lone Ranger versi Verbinski ini. Salah satunya adalah menyoroti permainan Johnny Deep dan Armie Hammer. Pendapatan film itu pun jauh di bawah harapan semula.

Tulisan singkat ini tidak akan melakukan kritik ataupun mendukung film itu. Tulisan ini lebih membahas tentang tiga simbol penting yang dimunculkan dalam The Lone Ranger yang, menurut saya, menarik untuk dicermati. Ketiga simbol itu adalah jam bandul, kereta api, dan topeng. Secara umum, dengan menganalisis ketiga simbol itu, saya berusaha mengangkat imaji tersembunyi dalam The Lone Ranger, yaitu: bagaimana Hollywood berusaha mengingatkan kita tentang proses penghancuran kreatif kapitalisme.

Jam Bandul

Sumber dari segala sumber krisis yang diangkat oleh The Lone Ranger bermula dari sebuah jam bandul. Alkisah, Tonto kecil menemukan dua orang cowboy kulit putih yang terluka parah. Atas inisiatif kemanusiaan dia membawa dua cowboy itu ke permukiman sukunya, Indian Comanche, untuk dirawat. Setelah sembuh, kedua cowboy itu menemukan bongkahan batu perak di sungai tempat bermukim Indian Comanche. Mereka bertanya pada Tonto kecil sumber sungai itu. Tonto kecil yang awalnya tidak mau memberikan informasi, akhirnya menukar informasi tentang keberadaan “gunung perak” dengan sebuah jam bandul milik Latham Cole [diperankan oleh Tom Wilkinson]. Tidak hanya itu, Tonto kecil juga menemani kedua cowboy itu menuju gunung perak. Sesampainya di sana, kedua cowboy berusaha membawa sebanyak mungkin perak yang bisa mereka bawa. Namun, dalam perjalanan pulang, mereka membunuh seluruh Indian di permukiman tempat mereka dirawat. Meninggalkan Tonto kecil seorang diri, sendirian. Menjadi yang terakhir dari sukunya.

The Lone Ranger menghadirkan simbolisasi barter “informasi tentang gunung perak” oleh Tonto kecil dengan “jam bandul” milik Latham Cole. Barter itu merupakan suatu simbol tentang bagaimana kapitalisme telah berhasil membeli keberadaan suku Indian dan lingkungan hidupnya.

Di luar soal barter, jam bandul merupakan simbol menarik karena fungsinya sebagai penunjuk waktu. Ajaran-ajaran klasik sosiologi menaruh perhatian penting pada konsep waktu sebagai pembahasan tentang kapitalisme. Time is money, waktu adalah uang, begitu slogan para kapitalis. Dalam kapitalisme, atau usaha untuk mengakumulasikan kapital, ada dua konsep kunci: kapital dan tenaga-kerja. Akumulasi kapital hanya bisa terjadi ketika ada tenaga-kerja yang mengakumulasikannya. Struktur masyarakat kapitalis membelah struktur kelas sosial menjadi dua: kelas borjuis dan kelas proletar. Kelas borjuis, terdiri dari mereka yang memiliki kapital dan leluasa untuk menentukan pilihan apakah dia akan menggunakan tenaga-kerjanya untuk mengakumulasikan kapital yang dimilikinya ataukah dia akan menyewa/membayar tenaga-kerja orang lain yang tidak memiliki modal untuk diakumulasikan. Dalam sistem masyarakat kapitalis yang hanya punya satu tujuan, akumulasi kapital, mereka yang tidak memiliki modal, kelas proletar, tidak memiliki pilihan pertama dari kelas borjuis. Mereka hanya bisa menunggu borjuis untuk membayar tenaga-kerja mereka dalam rangka akumulasi kapital.

Permasalahan kemanusiaan dalam masyarakat kapitalisme bermula ketika para borjuis lebih memilih opsi kedua, membayar para proletar untuk mengakumulasi kapital yang dimilikinya. Sementara para proletar bekerja untuk proses akumulasi kapital, para borjuis memiliki waktu luang, leisure time, yang digunakannya untuk melakukan hal-hal lain demi pengembangan diri, seperti: belajar, membaca, istirahat, menghibur diri, dan lain-lain. Kelas proletar kehabisan waktu luang. Waktu para proletar habis untuk bekerja, mengakumulasi kapital milik para borjuis. Sementara para proletar tidak punya waktu untuk mengembangkan diri, para borjuis dengan leluasa bisa memanfaatkan waktu luang mereka untuk berpikir tentang strategi yang lebih efektif untuk mengakumulasikan kapital-kapital yang sudah dimilikinya, termasuk bagaimana mempertahankan dominasi atas para proletar.

Jadi, permasalahan yang dimunculkan oleh masyarakat kapitalis bukanlah semata-mata eksploitasi tenaga-kerja para proletar, namun eksploitasi waktu luang para proletar untuk mengakumulasi kapital para borjuis. Dengan kata lain, akumulasi kapital melalui proses produksi jika-dan-hanya-jika didapatkan dari eksploitasi waktu luang para proletar oleh para borjuis. Waktu, bersama dengan kapital dan tenaga-kerja, kemudian, menjadi konsep kunci bagi akumulasi kapital yang inheren dalam masyarakat kapitalis.

Akan tetapi, bagi sistem kapitalisme, rupanya, akumulasi kapital tidaklah cukup. Para borjuis kemudian mengenalkan suatu konsep baru demi kemajuan sistem kapitalisme. Konsep itu adalah percepatan, yang dimunculkan jelas dalam simbol kereta api.

Kereta Api

Dalam sistem kapitalisme terdapat dua hal yang membatasi gerak akumulasi kapital, waktu dan ruang. Demi kemajuan dan kedigdayaan kapitalisme, dua hal tersebut harus dicarikan solusinya. Bagaimana jarak, yang dimunculkan oleh ruang geografis, telah membuat akumulasi kapital sering kali terlambat. Proses produksi, dengan kata lain, akumulasi kapital, akan terhambat, bahkan berhenti, jika bahan-bahan baku terlambat datang. Untuk mengatasi persoalan jarak, dan demi percepatan proses akumulasi kapital, dalam sistem kapitalisme, The Lone Ranger memunculkan suatu simbol yang sangat khas dalam masyarakat industri, kereta api. Diceritakan, Latham Cole, dengan modal beberapa bongkah batu perak yang berhasil dibawanya, bergerak dalam industri perkeretaapian. Salah satu proyek yang sedang dikerjakannya adalah membangun rel kereta api yang menghubungkan “gunung perak” dengan kota-kota pelabuhan di Amerika Serikat, baik itu di sisi Barat (San Fransisco, Los Angeles) maupun di sisi Timur (New York). Tujuannya tunggal, agar percepatan industri perak dapat terwujud. Kereta api, pada waktu itu, merupakan satu-satunya sarana transportasi yang paling masuk akal dalam rangka melakukan akumulasi kapital, mengangkut bongkahan-bongkahan perak langsung dari tambang ke pelabuhan.

Kereta api merupakan salah satu produk kreatif dari kapitalisme. Kereta api hanyalah satu simbol. Konsep yang diusung dari simbol kereta api adalah percepatan, melalui moda transportasi. Persoalan terbesar dalam sistem kapitalisme adalah bagaimana memindahkan (atau mempertemukan) barang (kapital) dan juga manusia (tenaga-kerja) secepat mungkin. Tujuannya bukan lagi sekadar akumulasi kapital, melainkan percepatan akumulasi kapital. Seperti proyek pembangunan raksasa lain, pembangunan sarana dan prasarana perkeretaapian terjadi dengan cara melakukan, lagi-lagi, eksploitasi tenaga-kerja dan waktu luang para proletar. Di Amerika, proyek kereta api, dan juga pertambangan, menggunakan buruh murah dari China. Fakta-fakta tentang eksploitasi manusia untuk percepatan akumulasi kapital dimunculkan dalam film itu.

Akan tetapi, percepatan akumulasi kapital membutuhkan jaminan dari setidaknya dua lapis struktur pengawasan. Yang pertama adalah pengawasan dari struktur hukum formal. The Lone Ranger menggambarkan dengan sangat baik bagaimana para penegak hukum yang menghalangi gerak kapitalis harus digantikan oleh para penegak hukum yang mendukung percepatan akumulasi kapital. Struktur yang kedua adalah “hukum jalanan”. Peran tokoh Butch menjadi sentral dalam The Lone Ranger. Sejak semula para penonton dibingkai bahwa dialah tokoh antagonis dalam film itu, namun rupa-rupanya segala tindakannya itu hanyalah bagian dari sistem percepatan akumulasi kapital. “Hukum jalanan” ini menarik untuk didiskusikan begitu kita masuk dalam pembahasan tentang topeng.

Topeng

Simbol terakhir yang dimunculkan dalam The Lone Ranger adalah topeng. Menggunakan topeng berarti melindungi keamanan orang-orang yang dikasihi, khususnya keluarga. Strategi ini pun dilakukan oleh John Reid yang menggunakan topeng untuk menjadi Lone Ranger adalah agar musuh tidak mengetahui identitas aslinya dan kemudian melukai orang-orang terdekatnya. Akan tetapi, simbolisasi topeng dalam figur pahlawan di Amerika Serikat lebih dari sekadar fungsi keamanan semacam itu.

Ada dua agensi, yang direpresentasikan oleh kehadiran dua aktor penting dalam The Lone Ranger, yang juga penting dikuasai seorang kapitalis dalam rangka memperlancar proses percepatan akumulasi kapital. Agensi pertama adalah para kriminal yang berfungsi untuk mengatasi permasalahan yang tidak bisa diselesaikan di atas meja dengan melakukan tindakan di luar hukum. Kapitalisme memang bergerak berdasarkan kesepakatan atau kontrak sosial, melalui diskusi dan negosiasi. Akan tetapi dalam pelaksanaan teknisnya, rupanya roda kapitalisme berputar lebih cepat dan tidak bisa menunggu proses diskusi dan negosiasi. Ada banyak pekerjaan yang harus dikerjakan di luar jalur formal, legal itu. Untuk tujuan itulah para kriminal dibutuhkan agar terpenuhinya beberapa pekerjaan yang terhambat oleh proses negosiasi. Penduduk lokal yang resisten atas gerak roda kapitalisme merupakan penghalang yang dapat dengan mudah diselesaikan dengan kekuatan mesiu, senjata para kriminal ini. Tokoh Butch Cavendish [diperankan William Fithcner] menjadi penting dan sentral dalam film itu. Butch, seorang residivis yang akan dihukum mati (gantung) lari dari pengawalan dan kemudian membunuh para Ranger. Ketiadaan para penegak hukum, membuat sang kapitalis dapat dengan mudah melanjutkan pekerjaannya tanpa harus takut dan cemas karena merasa diawasi oleh para Ranger.

Agensi kedua yang dibutuhkan oleh para kapitalis adalah, tentu saja, militer. Dukungan Kapten Jay Fuller [diperankan Barry Pepper] kepada Latham Cole merupakan sebuah fenomena menarik. Dengan adanya dukungan dari Kapten Fuller, Cole dapat dengan leluasa mengendalikan orang-orang yang tidak setuju dengannya. Tidak hanya itu, kekuatan militer juga digunakan untuk menghabisi para suku Indian Comanche, yang dianggap dapat menghalangi percepatan akumulasi kapital. Mesiu dan keringat yang dikeluarkan oleh pasukan militer kemudian ditukar dengan bongkahan-bongkahan perak.

The Lone Ranger adalah suatu kritik lunak atas kapitalisme. Suata usaha kesekian kalinya, untuk mengingatkan kapitalisme pada sifat inheren dalam dirinya, “penghancuran kreatif” –suatu istilah yang digagas oleh Joseph Schumpeter. The Lone Ranger merupakan suatu mitos menarik yang diciptakan oleh bangsa Amerika. Suatu mitos bahwa seorang penyelamat harus menggunakan topeng untuk bisa menyelematkan masyarakat dari kejahatan. Untuk menumpas kejahatan seseorang harus menutupi identitasnya dan bertindak di luar hukum (outlaw).

Topeng merupakan sebuah legitimasi bagi seseorang untuk dapat melakukan hal di luar jalur hukum (outlaw), bahkan tak jarang justru “mereka adalah hukum”. Hukum jalanan inilah yang ditentang habis-habisan oleh John Reid. Sejak awal pemunculannya dalam The Lone Ranger, digambarkan John Reid adalah seorang pengacara yang selalu berpegang pada hukum formal. Dia sangat tidak setuju dengan praktik “hukum jalanan”, kekerasan dan pistol. Bahkan, digambarkan pula John Reid tidak mau menggunakan pistol untuk menumpas kriminalitas. Tanpa pistol pula John berhasil menangkap Butch dan menyerahkannya pada otorita hukum Kapten Fuller. Sayang, usaha itu justru menjadi petaka bagi John ketika dia sadar bahwa seluruh aktor tersebut ternyata berkolaborasi jadi satu dalam rangka akumulasi kapital. Alhasil, justru John yang diputus dihukum mati karena dianggap telah menghalang-halangi proyek pembangunan infrastruktur kereta api. Pada titik itulah, akhirnya John memutus untuk mengangkat pistol untuk melawan kejahatan. Bersama Tonto, John menggunakan praktik-praktik seperti kawanan kriminal untuk menjatuhkan kelompok Latham Cole, Butch Cavendish dan Kapten Fuller.

Lone Ranger bukanlah satu-satunya tokoh pahlawan fiksi Amerika yang menggunakan topeng. Cukup banyak pahlawan bertopeng Batman dan Spiderman. Ini merupakan sebuah pembenaran bahwa usaha pemberantasan kapitalisme tidak bisa dilawan secara frontal, melalui lembaga-lembaga formal. Kapitalisme harus dihancurkan secara kreatif, bahkan jika perlu dengan menggunakan topeng. Itulah imaji yang berusaha dibangun oleh Hollywood pada anak-anak Amerika, dan anak-anak dunia. Perlulah kita merefleksikan, bagaimanakan imaji yang dibangun oleh film-film Indonesia pada anak-anak Indonesia?

Surabaya, 23 Juli 2013 © anton novenanto

Leave a Comment