Membingkai Lapindo

Membingkai Lapindo

Secara umum usaha Grup Bakrie memenangi konstruksi kebenaran tentang bencana gunung lumpur sesuai sudut pandang mereka cukup berhasil, tapi pada saat yang sama keberhasilan itu menandakan pembungkaman dan eksklusi konstruksi alternatif tentang insiden ini. Oleh karena itu, mungkin, intensi penelitian sosial tentang kasus Lapindo adalah mengungkap: bagaimanakah praktik pembungkaman dan eksklusi tersebut dilakukan? 

Membingkai Lapindo: Pendekatan Konstruksi Sosial atas Kasus Lapindo (Sebuah Bunga Rampai) (Jakarta: MediaLink & Yogyakarta: Kanisius, 2013) berisi kumpulan tulisan yang ditujukan untuk mengurai praktik pembungkaman dan eksklusi atas Kasus Lapindo.

Pemesanan buku klik di sini.

Ikuti diskusi Membingkai Lapindo di Google+ Facebook


Daftar Isi:

Pendahuluan: Menguak Ketertutupan Informasi Kasus Lapindo (Anton Novenanto) 

1. Perdebatan tentang Penyebab Lumpur Lapindo (Bosman Batubara) 

2. Berebut Kebenaran: Politik Pembentukan Subjek pada Kasus Lapindo (Abdil Mughis Mudhoffir) 

3. Lumpur Lapindo Terus Menyemburkan Informasi (Yayan Sakti Suryandaru)

4. Kasus Lapindo di Balik Layar “Tivi Merah” (Anastasya Andriarti & Anton Novenanto) 

5. Kasus Lapindo oleh Media Arusutama (Anton Novenanto) 

6. Public Relations dalam Manajemen Krisis Lapindo (Rachmat Kriyantono)


Komentar Awal:

Buku ini berkontribusi pada pemahaman pembacanya terhadap kasus fenomenal Lumpur Lapindo di Sidoarjo. Analisis yang dikemukakan dalam buku memberikan analisis yang tajam sekaligus diperlukan untuk lebih memahami peristiwa Lapindo bukan semata bencana alam, tetapi juga suatu rekonstruksi media yang berafiliasi pada pemilik Lapindo, pertarungan wacana, serta pertarungan pengelolaan citra oleh para perusahaan kehumasan. Buku yang akan segera menjadi referensi aneka studi soal konstruksi media, upaya kehumasan dan dampak buruk konglomerasi media. – Ignatius Haryanto M.Hum., peneliti media di Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) Jakarta

Kebenaran dalam Kasus Lumpur Lapindo menjadi sesuatu yang relatif karena bisa dikonstruksi oleh para pihak yang memiliki kuasa, termasuk industri media. Opini masyarakat bisa dibangun melalui informasi yang disebarkan atau dibatasi oleh pejabat publik, ahli, perusahaan, media massa, maupun pihak-pihak lain. Berlarut-larutnya kasus ini menunjukkan adanya pertarungan untuk mempengaruhi kebenaran itu. Buku ini menyajikan dengan apik berbagai hasil pengamatan dan penelitian terkait bagaimana tarik-menarik kebenaran dalam kasus Lumpur Lapindo. – Bambang Catur Nusantara, Badan Pengurus Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) dan Dewan Daerah WALHI Jawa Timur

Kumpulan tulisan ini memeriksa mekanisme camera obscura dalam pembentukan cara dan praktek-tutur untuk menyamarkan kegagalan mencegah dan mengatasi ledakan bawah-tanah di sumur Banjarpanji I, Sidoarjo, Blok Brantas, Jawa Timur. Kasus ini merupakan skandal industri terburuk di jaman setelah Suharto. Ia mencakup kolusi di antara korporasi dengan cabang-cabang pengurus negara pengelola industri minyak dan gas, pengerahan dana publik untuk menutup biaya pengendalian kerusakan sosialekologis, serta fabrikasi konsensus dan pengerahan kepatuhan warga-negara di wilayah bencana industri tersebut. Operasi para pelaku kunci di sepanjang drama yang belum usai ini dapat kita perbandingkan dengan yang berlangsung pada berbagai bencana industri besar lainnya, seperti PLTN Chernobyl, penyamaran dampak kebocoran di PLTN Fukushima, skandal Union Carbide di Bhopal, ledakan bawah permukaan di anjungan Deepwater Horizon di Teluk Meksiko. Kisah Banjarpanji I sendiri membuka sebuah ruang bertutur tandingan yang selama ini dibungkam, yaitu gambaran tentang bagaimana kompleks industri-energi mendikte dinamika pembesaran rerantai nilai dan rerantai pasokan energi dengan sedikit sekali mengacu kepada pola energetika untuk metabolisme sosial di sebuah negara. – Hendro Sangkoyo, ahli politik ekologi, pendiri Sekolah Ekonomika Demokratik


Tentang Para Kontributor:

Anastasya Andriarti adalah jurnalis televisi dan penikmat isu media. Memperoleh gelar Master Komunikasi (Manajemen Media) di Pascasarjana Komunikasi Universitas Indonesia. Sejak 2005 mengajar juga untuk matakuliah di bidang komunikasi dan broadcasting di sejumlah perguruan tinggi di Jakarta, antara lain: Program Vokasi Komunikasi UI, UPN Veteran, dan Fikom Universitas Pancasila.

Bosman Batubara menyelesaikan S-1 di Jurusan Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada dan memperoleh gelar master dari Interuniversity Programme in Water Reosurces Engineering, Katholieke Universiteit Leuven dan Vrije Universiteit Brussel, Belgia. Pernah bekerja sebagai exploration geologist di PT Kaltim Prima Coal. Pada tahun 2009-2010 terlibat dalam advokasi korban Lumpur Lapindo. Beberapa karya tentang bencana industri dan Lumpur Lapindo: Bencana Industri: Relasi Negara, Perusahaan dan Masyarakat (sebagai editor dan kontributor) Jakarta: Yayasan Desantara (2010) dan Kronik Lumpur Lapindo: Skandal Bencana Industri Pengeboran Migas di Sidoarjo (sebagai penulis bersama Paring Waluyo Utomo), Yogyakarta: INSIST PRESS (2012).

Rachmat Kriyantono adalah dosen pada Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Brawijaya, Malang

Abdil Mughis Mudhoffir berasal dari salah satu desa di Porong, Sidoarjo yang tidak jauh dari pusat semburan lumpur Lapindo. Menamatkan kuliah hukum di Universitas Brawijaya pada 2006 dan master di bidang Sosiologi dari Universitas Indonesia tahun 2008. Saat ini adalah dosen tetap pada Jurusan Sosiologi, Universitas Negeri Jakarta dan research associate di LabSosio, Pusat Kajian Sosiologi, FISIP, Universitas Indonesia dengan minat kajian di bidang studi lingkungan dan gerakan Islam. Beberapa tulisan yang telah dipublikasikan: “Governmentality dan Pemberdayaan dalam Advokasi Lingkungan: Kasus Lumpur Lapindo” (Jurnal Sosiologi Masyarakat, Vol. 16 (1), Januari 2011). Salah satu penulis buku Hitam-Putih Tembakau (FISIP UI Press & LTN PBNU, 2011).

Anton Novenanto adalah dosen pada Jurusan Sosiologi, Universitas Brawijaya. Saat ini sedang menempuh program doktoral pada Institut für Ethnologie, Ruprecht-Karls-Universität Heidelberg, Jerman.

Yayan Sakti Suryandaru adalah dosen Departemen Komunikasi, Universitas Airlangga. Peneliti dan pengamat media di Puskakom Surabaya.

Leave a Comment